Ada yang bilang bahwa suatu tindakan berulang-ulang yang merugikan diri sendiri ataupun orang lain itu sebagai ke budaya an seperti sistem di indonesia yang hampir semuanya tidak mengenal lagi adanya asas kehidupan bersama antar sesama makhluk hidup dan asas ke Tuhan an sebagai landasan dalam segala tindakan.
Jika kasus atau tindakan yang merugikan ataupun mengugurkan hak dan kewajiban antar sesama dalam bernegara berkayakinan dan bermasyarakat khususnya di Indonesia, yang semakin hari semakin beragam dan semakin ber metamorfosis kreatif serta inovatif "itu" adalah suatu budaya bagaimana aku dan golonganku mengenal dan memaknai tanah pertiwi ini, tanah yang paling subur ini, bagaimana kawan?, sepertinya mereka keliru dalam memahami adanya kebudayaan. Ada pergeseran makna budaya yang sangat fatal, yang menyebakan budya jadi berubah makna : dari makna yang sakral ke makna yang profan. prgeseran makna tersebut dilakukan oleh kaum modernist, agar budaya kehilangan makna sakralnya.
Manusia dianegerahi oleh Tuhan dengan akal pikiran yang membedakan manusia dengan makhluk Tuhan yang lainnya. Dengan akal pikiran inilah, manusia memproduksi berbagai hal, seperti teknologi, seni, ilmu pengetahuan, kebudayaan dan sebagainya. Karena memiliki akal pikiran dan mendayagunakannya, manusia sering disebut sebagai makhluk budaya.
Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Secara umum Budaya merupakan hasil budi dan daya dari manusia. Jika kita berbicara tentang manusia sebagai mahluk berbudaya, berarti kita akan memandang manusia dari kacamata budaya. Sebagai makhluk budaya, manusia mempunyai beberapa ciri diantaranya adalah bahasa, perilaku, akal pikiran, hasil karya, nilai dan norma, memproduksi sebuah produk kebudayaan dan sebagainya.
Salah satu produk dari manusia sebagai makhluk budaya adalah menghasilkan sebuah peradaban yang maju. Selain itu, manusia sebagai makhluk budaya menghasilkan karya seni, ilmu pengetahuan dan teknologi, norma sosial, kepercayaan dan sebagainya
Arti Manusia sebagai Makhluk Budaya
Dalam sudut pandang etimologi banyak pendapat yang mengemukakan tentang kata manusia, seperti kata manusia itu berasal dari kata manu (sangsekerta), mens (latin) yang berarti berfikir, berakal budi atau mahluk yang berakal budi. Dalam kamus besar bahasa Indonesia manusia diartikan sebagai mahluk yang berakal budi. Dalam antropologi kebudayaan, mereka dijelaskan berdasarkan penggunaan bahasanya, organisasi mereka dalam masyarakat majemuk serta perkembangan teknologinya, dan terutama berdasarkan kemampuannya untuk membentuk kelompok dan lembaga untuk dukungan satu sama lain serta pertolongan.
Dari pengertian di atas dapat di simpulkan bahwa manusia adalah suatu mahluk yang meiliki ciri tertentu dan memiliki keintelektualan yang tinggi dan membutuhkan kepada yang lainnya. Yang lainnya di sini entah kepada tuhan atau kepada sesama makhluk.
Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa sangsekerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Pendapat lain menyatakan bahwa kata budaya adalah sebagai sebagai suatu perkembangan dari kata majemuk budidaya yang berarti daya dan budi. Karena itu, mereka membedakan antara budaya dan kebudayaan. Budaya adalah daya dari budi yang berupa cipta, rasa dan karsa dan kebudayaan adalah hasil dari cipta, rasa dan karsa tersebut. Dalam arti terminologi budaya adalah sebuah sistem yang memiliki koherensi.
Menurut E.B Taylor (1987), dalam buku Primitive Culture, kebudayaan adalah keseluruhan yang didalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, seni, moral hukum, adat istiadat, pembawaan lain yang di peroleh dari anggota masyarakat yang terbentuk dari anggota masyarakat yang terbentuk dari pemahaman suatu bangsa. Sedangkan, menurut R. Linton (1940) dalam buku The Cultural Background of Personality mendefinisikan kebudayaan sebagai konfigurasi dari tingkah laku dan hasil tingkah laku yang unsur-unsur terbentuknya didukung dan diterukan oleh anggota masyarakat tertentu. Lain halnya dengan Koentjaraningrat (1979) yang mengartikan kebudayaan dengan keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar.
Berdasarkan pengertian-pengertian di atas, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa budaya adalah sesuatu bagian dari manusia tidak akan pernah terpisahkan, karena tabiat manusia itu sendiri adalah berbudaya. Kenapa begitu? Jika kita melihat arti manusia secara bahasa, yakni dari kata manu, memiliki arti berfikir, berakal budi. Dan budaya sendiri dalam arti bahasa berarti akal atau budi. sehingga jika kita menarik garis lurus antara arti kata manusia dan budaya, maka kita akan mendapatkan dua kata kunci, yakni akal dan budi. hal ini menunjukkan keterkaitan diantara keduanya.
Dalam paradigmaku bahwa Manusia itu termasuk komponen penting dalam kehidupan di alam jagad raya ini karna hanya manusialah yang di karuniai akal/budi/fikiran dan hati. Karna itu pula manusia juga terlibat apabila terjadi suatu hal baik berupa kerusakan ataupun keindahan di alam ini.
dalam pandangan takdir , budaya adalah kekuatan (daya) dari jiwa rohnya (budi) hasil produk dari jiwa dan rohnya (budi) .
Budi (jerman Geist) inilah yang membedakan manusia dengan binatang, yang dengannya manusia mengatasi alam dan menciptakan entitas-entitas baru, yang di sebut budaya ( culture ). pemaknaan budaya sebagai kulture yang dilakukan takdir merupakan reduksi makna budaya walaupun pada mulanya takdir menggunakan geist dan budha untuk memaknai budi, tetapi ahirnya pemaknaan itu jatuh hancur saat ia memaknai budaya sebagai culture, jika takdir mau konsisten, seharusnya ia memaknai budaya dengan makna yang bekaitan erat budi dari geist dan budha.
Dalam tradidi buddhisme, jiwa dan ruh mansia (budi) berhubungan dengan kesakralan, bukannya keprofanan sebagai mana yang hendak di usung oleh takdir. Takdir menggunakan konsep budi dan daya untuk menggolkan program modernisasinya yang sekuler.
Dekadensi moral kian brutal dan semakin menigkat, punahnya hewan dan tumbuhan, bencana alam terus menghujam, maunya hidup mewah tanpa mau merasakan susah, lebih memilih menggunjing ketimbang menyaring, mengutamakan kesopanan tapi lupa dengan keharusan.
Kau terlihat tersenyum lapang bersama, kau terlihat indah tapi kau tak tau makna ke indahan, ternyata perhatian yang kau berikan berujung dengan imbalan yang sungguh memalukan.
Mungkin lebih baik kau diam dan mengheningkan cipta untuk semua yang ada.
Maafkan aku kawan
I'm sorry fella
the journey
will continue to bother me
that the mind and the services you
will not be replaced
also, thx friend
over time and opportunity
take the pitch.
Membuatku nyaris tertawa di dalam dada :)
RFRENSI
http://www.academia.edu/4031154/Budaya_Makna_Profan_dan_Makna_Sakral
http://abdulrosyid7.wordpress.com/about/ilmu-budaya-dasar/
Scientists philosopher & Jurist
Nama Lengkap : Ahmad Dahlan Baidowi
Nama Panggilan : Allan / Allan ADBeat
Tempat-Tanggal-Lahir : Cilacap-09-Desember-1992
Alamat : Jl. Bima-Pucung Lor – Kroya – Cilacap
Status : Pelajar
Hobby : Mengamati – Meneliti – Menyaji – Menulis – Membaca : Membaca Tulisan &
Keadaan
Nama Panggilan : Allan / Allan ADBeat
Tempat-Tanggal-Lahir : Cilacap-09-Desember-1992
Alamat : Jl. Bima-Pucung Lor – Kroya – Cilacap
Status : Pelajar
Hobby : Mengamati – Meneliti – Menyaji – Menulis – Membaca : Membaca Tulisan &
Keadaan
Lihat yang lain :
https://www.facebook.com/ahmaddahlanbaidowi
http://allanadb.blogspot.com/
https://plus.google.com/100052659520909206056/posts
Tidak ada komentar:
Posting Komentar