Rabu, 12 November 2014

tak suka kau bicara

Tak Suka Kau Bicara 

Ternyata tak mudah untuk menuduh tak gampang untuk imbang bukan sekedar menjadi pemenang tapi kenapa semesta mengizinkan ia untuk menang atau di beri kesempatan padanya untuk menunjukan dirinya bahwa ia pantas atau tidak untuk tetap bertahan.

Sebenarnya benar berguna ataukah terhina, siapkah semua bertanggung jawab dalam perannya masing-masing meski terasing atau bahkan terhantam oleh kerasnya dinding,

Kau yang sering mengkritisi diriku apakah kalian juga mawas diri kalian sendiri? aku mengerti dengan apa yang telah aku lakukan atau yang hendak aku perbuat, jadi,,,???? saya rasa itu gak ada arti ketika kalian masih saja menilai diriku atau karna kalian tak faham akan budi pekerti? atau hati kalian telah lama buta, atau memang tuli ataukah hati kalian telah lama mati? sayang sekali kalian tidak mengerti.

Aku mengerti dengan diriku andaikan aku belum mengerti tak usah lah mulutmu berkoar untuk memberi jalan atau cahaya semu, jika begitu mulutmu masih saja bersuara apa lidah itu sudah bersih dari kebohongan atau setidaknya ada rasa untuk belajar dari setiap kejadian kawan.

Ada kalanya orang itu mahir dalam berbicara, ada pula yang memiliki kamampuan lebih dalam menulis, ada juga yang ahli dalam pembuktian/tindakan. dari tiga kelebihan tersebut jarang ada orang yang mampu menguasainya pada umumnya kita ahli pada salah satu di antara tiga kelebihan dan apabila ada yang sama sekali tidak menguasai salah satunya itu berarti ia samasekali belum dewasa atau tak berarti bagi sesamanya atau juga dengan kata lain ia adalah sampah yang sudah tidak bisa di pakai kecuali hanya membuat bau yang menyengat dan menggangu lingkungan, sudah sepantasnya di basmi dan di gantikan dengan yang lain.

Aku saat ini lebih memilih untuk belajar dengan sesamanya bukan hanya dengan manusia saja karna apa? ketika aku belajar dengan manusia bisa saja manusia itu merasa berjasa dan timbul rasa sombong apalagi kadang mulutnya itu tidak bisa control (ember/ngoceh).

Makhluk selain manusia itu bisa menerima setiap keadaan apapun tapi coba manusia ? selalu merasa kurang kurang dan kurang pada umumnya, tidak kah kita mengerti bahwa kelangsungan bermasyarakat itu bukan hanya menuruti kemauan/keinginan pribadi melainkan peduli dengan sesamanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar